-->

Ads (728x90)

Orang Tua Murid SMP Negeri 22 Batam Kecam Penggunaan Gas Air Mata untuk Membubarkan Warga Rempang
Orang tua murid SMP Negeri 22 saat mengevakuasi putrinya yang terdampak gas air mata, Kamis (7/9) (Parulian/Realitamedia.com)

By Parulian

BATAM, Realitamedia.com –  Orang tua dan wali murid SMP Negeri 22 menyesalkan sikap tim terpadu yang menggunakan gas air mata untuk membubarkan warga Rempang yang memblokir jalan di Jembatan 4 Barelang, Kamis (7/9).

Tim terpadu yang terdiri dari Polri, TNI, Ditpam BP Batam, dan Satpol PP membubarkan warga Rempang karena hendak masuk untuk melakukan pengukuran tata batas hutan Rempang.

Penembakan gas air mata yang dilakukan oleh tim terpadu itu, mengakibatkan 10 orang murid dan seorang guru SMP Negeri 22 mengalami mual-mual, pening dan perih. 

Orang tua atau wali murid terpaksa mengevakuasi anaknya ke rumah sakit terdekat bahkan ada yang dievakuasi ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Embung Fatimah.

Ketika membawa anaknya pulang, banyak orang tua atau orang tua murid yang mengomel dan menyesalkan sikap Kepala BP Batam Muhammad Rudi yang merestui tim terpadu menggunakan gas air mata untuk membubarkan warga yang memblokade jalan.

“Kenapa pak Rudi tak tembak saja semua anak-anak sekolah, ini anak sekolah harapan bangsa, masa anak sekolah semua pada pingsan kenapa tak tembak saja semua pak Rudi,” kata seorang ibu saat membawa putrinya yang terdampak gas air mata.

Orang Tua Murid SMP Negeri 22 Batam Kecam Penggunaan Gas Air Mata untuk Membubarkan Warga Rempang
Ketua LPM Kelurahan Rempang Cate, Samsurizal  (Parulian/Realitamedia.com)

Terpisah, Ketua LPM Kelurahan Rempang Cate, Samsurizal saat ditemui di rumah sakit umum daerah (RSUD) Embung Fatimah saat mengantar keluarganya berobat yang juga terdampak gas air mata mengatakan pihaknya sudah meminta tim terpadu agar tidak menggunakan gas air mata, tetapi mereka tidak mengindahkannya.

“ Saya sudah mengingatkan agar tim terpadu jangan menembakkan gas air mata tetapi mereka tidak mengindahkannya,” katanya.

Ia menyebut sebagai tokoh masyarakat dirinya mengecam tindakan yang dilakukan tim terpadu itu. Sebab akibat penggunaan gas air mata itu 10 orang siswa dan seorang guru SMP Negeri 22 Batam kena dampak bahkan ada yang sempat pingsan.

“ Kesalahan anak-anak sekolah ini apa, seharus tim terpadu memperhitungkan akibat penggunaan gas air mata, yang sudah tentu sangat berbahaya terhadap warga dan siswa sekolah yang berdekatan dengan lokasi kejadian,” katanya.

Pria yang akrab disapa Rizal ini, meminta agar Muhammad Rudi selaku Kepala BP Batam untuk bertanggung jawab atas kejadian tersebut dan berharap agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperhatikan nasib murid-murid SMP Negeri 22 Batam.

Orang Tua Murid SMP Negeri 22 Batam Kecam Penggunaan Gas Air Mata untuk Membubarkan Warga Rempang
Kepala Diskominfo Batam Rudi Panjaitan (Parulian/Realitamedia.com)

Kepala Diskominfo Batam Rudi Panjaitan ketika ditemui awak media saat meninjau murid-murid SMP Negeri 22 Batam yang dievakuasi ke RSUD Embung Fatimah mengatakan Pemko Batam akan bertanggungjawab dan menanggung seluruh perobatan siswa dan guru SMP Negeri 22 Batam yang terdampak gas air mata.

Ia menyebut kedatangan tim terpadu ke Rempang untuk mengukur tata batas hutan Rempang, tetapi warga Rempang memblokir jalan yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan SMP Negeri 22 Batam. 

“ Tim terpadu juga sudah menyampaikan supaya masyarakat memberikan laluan kepada tim dan sudah menjelaskan bahwa kita adalah satu tujuan yakni memberikan yang terbaik bagi masyarakat, tetapi masyarakat tetap bertahan sampai ada tindakan yang tidak sesuai dengan hukum, ada warga yang melempari petugas dengan batu sehingga petugas terpaksa menembakkan gas air mata,” katanya.

Penembakan gas air mata itu, katanya, untuk membubarkan masyarakat yang memblokir jalan. Tetapi gas air mata itu berdampak kepada siswa dan guru SMP Negeri 22 Batam, gas air mata itu dibawa angin yang kebetulan lokasi kejadian berdekatan dengan sekolah itu.

Kesebelas korban itu, kata dia, ada yang mengalami mual-mual, pening dan mata perih. Seluruh korban telah dievakuasi ke RSUD Embung Fatimah ini, dan telah mendapat perawatan yang intensif dari tim medis.

Lanjutnya, sebagian dari korban ada yang sudah pulih dan sudah dikembalikan kepada orang tua korban.

Rudi Panjaitan berharap masyarakat tidak terprovokasi dengan isu-isu yang tidak tahu kebenarannya. Ia meminta masyarakat mempercayakannya kepada pemerintah karena pemerintah hadir untuk mencari solusi yang terbaik kepada masyarakat.

Ia juga mengatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Batam, jika kondisi kurang kondusif, siswa SMP Negeri 22 Batam untuk sementara diliburkan. (ian)

Editor : Herry 


Post a Comment