![]() |
| Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP) Andre Silalahi di ruang kerjanya, Jumat (23/1) (Foto : Parulian/Realitamedia.com). |
BATAM, Realitamedia.com – Saat ini jumlah penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Batam sebanyak 1107 warga binaan pemasyarakatan (WBP), 60 % diantaranya tersandung kasus narkoba.
Jumlah itu sudah sangat over kapasitas, sebab dari jumlah kamar hunian yang dimiliki Lapas Batam, sesuai standard harus dihuni 560 WBP. Sedangkan jumlah pegawai Lapas Batam termaksuk Kepala Lapas Batam saat ini hanya 140 orang.
“ Jika dilihat perbandingannya, jumlah penghuni Lapas Batam yang berjumlah 1107 dibanding dengan pegawai Lapas Batam yang berjumlah 140 orang. Ini menunjukkan satu orang pegawai Lapas Batam harus menjaga sekitar 100 warga binaan,” kata Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP) Andre Silalahi saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (23/1).
Walau sudah over kapasitas, petugas Lapas Batam tetap berupaya memaksimalkan pembinaan terhadap warga binaan.
Ia menjelaskan bahwa pembinaan yang diberikan ada dua yakni : pembinaan kerohanian dan kemandirian. Tujuannya agar kelak jika warga binaan kembali kemasyarakat memiliki keterampilan dan dapat membuka usahanya sendiri.
“ Untuk melakukan pembinaan kerohanian, Lapas Batam bekerjasama dengan Departemen Keagamaan Kota Batam,” katanya.
Pembinaan kerohanian di Lapas Batam memiliki rumah ibadah seperti : mesjid untuk tempat ibadah umat muslim, gereja untuk tempat ibadah umat Kristen, vihara untuk tempat ibadah umat Budha.
Pembinaan kemandirian, lanjutnya, dilakukan dengan membina warga binaan dibidang pertanian , perikanan, kuliner, otomotif (perbengkelan) dan permebelan.
“ Meja ini hasil karya dari warga binaan,” kata Andre sambil mengetuk meja di depannya.
Pembinaan dibidang pertanian, Lapas Batam bekerjasama dengan pihak ketiga seperti Dinas Pertanian dan perusahaan yang bergerak dibidang pertanian. Sedangkan pembinaan dibidang perikanan bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan perusahaan yang bergerak dibidang perikanan.
Secara rinci Andre menjelaskan untuk pembinaan pertanian, warga binaan dibina bercocok tanam tanaman semusim seperti bayam, kangkung, cabai dan lainnya.
Pembinaan dibidang pertanian dan perikanan dilakukan Lapas Batam untuk mendukung program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming dan akselerasi program Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.
“ Hasil panen dari sayuran yang ditanam untuk dikomsumsi warga binaan,” kata Andre.
Demikian halnya dengan budidaya ikan, seperti ikan lele, gurami, nila produksinya juga untuk dikonsumsi penghuni warga binaan.
Budidaya ikan tawar dilakukan dengan cara biofak, Lapas Batam bekerjasama dengan Tunas Bioflok Indonesia (TBI). Ikan dibudidaya di dalam kolam yang dibuat dari terpal dan di kolam yang dibangun dengan batu bata yang disemen. Kolam-kolam itu dibuat di area tembok dalam Lapas (branggeng).
Di bidang kuliner, Lapas Batam juga membina warga binaan dengan melatih cara membuat roti.
“ Roti tersebut untuk sementara hanya untuk dikonsumsi oleh warga binaan belum dapat dipasarkan ke luar, sebab Lapas Batam sedang mengurus hak patennya,” katanya.
Setiap orang memiliki bakat dan keterampilan yang berbeda-beda, demikian halnya dengan warga binaan sebelum ditentukan ke bidang keterampilan mana warga binaan itu dibina, petugas Lapas Batam terlebih dahulu melakukan asesmen.
Asesmen itu dilakukan selain untuk menentukan bakat dari warga binaan di bidang mana dia dibina, juga bermanfaat dari segi keamanan.
“ Contohnya jika ada pelaku pembunuhan dimasukkan ke Lapas Batam untuk dibina, petugas harus memastikan pelaku tersebut tidak ditempatkan di kamar hunian bersama keluarga dan kerabat korban,” katanya.
Hal tersebut, katanya, perlu dilakukan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.
Untuk menjaga ketertiban dan keamanan di Lapas Batam, Andre mengatakan pihaknya kerab melakukan razia insedentil bekerjasama dengan aparat penegak hukum (APH).
“ Kami kerap melakukan razia secara mendadak yang tidak diketahui oleh warga binaan, yang mengetahuinya hanya petugas keamanan saja,” katanya.
Hal itu dilakukan untuk menjaga kerahasian, sehingga barang–barang yang dilarang tidak sempat disembunyikan oleh warga binaan.
Walau sudah dilakukan pembinaan kerohanian dan kemandirian, masih ada juga warga binaan yang telah bebas kembali ke masyarakat, lalu melakukan tindak pidana dan akhirnya kembali menjadi warga binaan Lapas Batam.
Untuk itu, Andre mengimbau masyarakat khususnya keluarga mantan narapidana agar tidak mengucilkannya, tetapi dirangkul dan diarahkan untuk melakukan hal-hal yang positif. (ian)
Editor : Patar
.jpeg)

Posting Komentar