-->

Ads (728x90)

Share Artikel ini | Redaksi News Minggu, Maret 15, 2026 A+ A- Print Email

 

Foto: Ilustrasi pengolahan biji nikel (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Penulis : AM Hendropriyono. Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan RI (1996-1998).

JAKARTA, Realitamedia.com  -  Situasi geopolitik global semakin tidak stabil. Ketegangan di Timur Tengah, termasuk konflik Israel-Iran, berpotensi mengganggu pasokan energi dunia, jalur perdagangan internasional, serta stabilitas ekonomi global. 
Dalam kondisi demikian, negara yang kuat bukan hanya negara yang kaya sumber daya, tetapi negara yang memiliki basis produksi nasional yang mandiri dan mampu bersaing dalam perdagangan dunia.

Indonesia memiliki peluang strategis untuk memperkuat posisinya sebagai kekuatan ekonomi utama di kawasan Indo-Pasifik. Namun hal tersebut memerlukan percepatan transformasi ekonomi dari eksportir bahan mentah menjadi produsen barang bernilai tambah tinggi.

Dalam konteks ini, pemikiran Prof. Soemitro Djojohadikusumo mengenai integrasi ekonomi nasional yang dapat dipahami sebagai konsep Indonesia Incorporated, kembali menjadi relevan. Negara harus mampu mengintegrasikan kekuatan produksi nasional, pasar domestik, dan ekspansi perdagangan global.

Keunggulan Strategis Indonesia

Indonesia memiliki kombinasi kekuatan yang jarang dimiliki negara lain, yaitu cadangan mineral strategis dunia (nikel, bauksit, tembaga, timah), Kekuatan agrikultur tropis (sawit, kakao, kopi, rempah).

Potensi kelautan terbesar di dunia dan Pasar domestik besar lebih dari 280 juta penduduk
Jika dikelola melalui industrialisasi nasional, kekuatan tersebut dapat menjadikan Indonesia pusat produksi strategis di kawasan Indo-Pasifik.

Lima Arah Kebijakan Prioritas

1. Industrialisasi Mineral Strategis

Mempercepat hilirisasi mineral nasional untuk membangun industri masa depan, yaitu: Nikel untuk baterai kendaraan listrik, Bauksit untuk aluminium industri, dan Tembaga untuk komponen energi dan elektronik.
Indonesia harus menjadi basis industri energi masa depan dunia.

2. Integrasi Logistik Nasional
Memperkuat pasar domestik melalui: Perluasan Tol Laut, Pengembangan pelabuhan hub nasional,
Penurunan biaya logistik nasional, dan Pasar domestik yang terintegrasi akan menjadi fondasi industrialisasi nasional.

3. Hilirisasi Agrikultur dan Kelautan
Meningkatkan nilai tambah dari komoditas tropis: Sawit menjadi oleokimia dan biofuel,
Rumput laut untuk farmasi dan bioteknologi, dan Perikanan untuk protein laut global. Indonesia berpotensi menjadi kekuatan pangan tropis dunia.

4. Ketahanan Energi Nasional
Mengurangi ketergantungan impor energi melalui: Biofuel berbasis sawit, pengembangan panas bumi, dan Pembangunan cadangan energi strategis. Langkah ini penting untuk menghadapi ketidakpastian geopolitik global.

5. Diplomasi Ekonomi Global
Memperluas pasar ekspor industri nasional melalui: Diplomasi perdagangan, Pembukaan pasar baru di Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah.
Kesimpulan Strategis

Indonesia memiliki semua prasyarat untuk menjadi kekuatan ekonomi besar dunia, yaitu sumber daya alam yang besar, pasar domestik yang luas, dan posisi geopolitik yang strategis.

Dengan mengintegrasikan kekuatan tersebut melalui strategi Indonesia Incorporated, Indonesia dapat membangun ekonomi yang mandiri secara nasional, tangguh menghadapi krisis global dan kompetitif dalam perdagangan dunia.

Transformasi ini bukan hanya pilihan kebijakan ekonomi, tetapi merupakan keharusan strategis bagi masa depan Indonesia.

Sumber : detik.com

Editor : Patar


Posting Komentar