![]() |
| Tambak Udang di RT 13 RW 05 Dusun 3 Desa Penarah, Kecamatan Belat Kabupaten Karimun, Senin (21/10/2026) (Foto : James/Realitamedia.com). |
By James
KARIMUN, Realitamedia.com – Program Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang diharapkan mampu mendongkrak perekonomian masyarakat desa kini justru menuai sorotan tajam.
Pasalnya, program tambak udang di RT 13 RW 05 Dusun 3 Desa Penarah, Kecamatan Belat Kabupaten Karimun yang telah menelan anggaran hingga ratusan juta rupiah tersebut dilaporkan mengalami kerugian besar. Hal ini memicu gelombang pertanyaan dan kekecewaan dari warga setempat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, modal usaha yang dikucurkan melalui Dana Desa untuk penyertaan modal Bumdes tidak berjalan sesuai rencana. Alih-alih memberikan Pendapatan Asli Desa (PADes), unit usaha yang dikelola seperti program tambak udang pada tahun 2025 justru merugi, walau merugi program tambak udang di tahun 2026 tetap dilanjutkan, Senin (21/10/2026).
Perwakilan warga Desa Penarah, Atan mengatakan bahwa masyarakat merasa berhak menuntut transparansi dari pihak pengelola dan pemerintah desa.
"Kami mempertanyakan ke mana aliran dana BUMDES sebelumnya. Mengapa program tambak udang yang sebelumnya merugi yang dibangun dengan uang rakyat bisa rugi total dan sekarang malah dilanjutkan kembali ? Ini jelas pemborosan anggaran yang sia-sia," ujar Atan dengan nada kecewa.
Atan menilai perencanaan program Bumdes terkesan asal-asalan dan tidak melihat potensi riil di lapangan. Mereka mempertanyakan mengapa program pada tahun 2025 yang telah merugi kini malah tetap melanjutkan program tersebut.
Ia berharap kasus ini menjadi pelajaran keras bagi desa-desa lain agar lebih berhati-hati dalam mengelola anggaran negara yang diperuntukkan bagi kesejahteraan warga.
![]() | |
Warga Desa Penarah, Atan
|
Sementara itu, Ketua BUMDES Desa Penarah Kecamatan Belat, Abdul Kadir saat ditemui di Kantor Camat Belat akhirnya memberikan klarifikasi terkait proyek budidaya tambak udang pada tahun 2025 yang sempat mengalami kegagalan.
Ia menyebut kerugian finansial pada siklus lalu murni disebabkan oleh faktor teknis di lapangan karena orang yang menjaga tambak udang tersebut harus terlatih, dan penjaga sebelumnya sudah pindah ke Kundur Utara.
"Sekarang itu kami nunggu cari pengganti yang menjaga harus terlatih," terangnya.
Selain itu, lanjutnya, akibat faktor Blackout PLN selama 4 jam yang memicu pemadaman listrik, mesinnya tidak dapat menarik kincirnya karena mati sehingga terjadinya gagal panen.
"Kegagalan tersebut sempat menjadi sorotan dari masyarakat, transparansi anggaran dan pengelolaan dana desa juga menjadi sorotan masyarakat," katanya. (Jam)
Editor : Patar



Posting Komentar