-->

Ads (728x90)

Share Artikel ini | Redaksi News Sabtu, Juli 04, 2026 A+ A- Print Email

 

Gubernur  Ansar memaparkan sejarah panjang Pulau Penyengat sebagai pusat peradaban Melayu sekaligus salah satu tonggak penting lahirnya Bahasa Indonesia dalam program Jurnal Nusantara Kompas TV bertajuk “Pulau Penyengat Perkuat Identitas Budaya Melayu”, Sabtu (4/7/2026). (Tangkap layar siaran langsung program Jurnal Nusantara Kompas TV)

By Baringin 

TANJUNGPINANG, Infokepri.com - Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad menjadi narasumber dalam program Jurnal Nusantara Kompas TV bertajuk “Pulau Penyengat Perkuat Identitas Budaya Melayu”, Sabtu (4/7/2026). 

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Ansar mengulas sejarah panjang Pulau Penyengat sebagai pusat peradaban Melayu sekaligus salah satu tonggak penting lahirnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa.

Gubernur Ansar menjelaskan, Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata sejarah, tetapi merupakan kawasan yang menyimpan jejak peradaban Melayu yang sangat berpengaruh terhadap perjalanan bangsa Indonesia.

“Pulau Penyengat memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Dahulu pulau ini menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga yang wilayahnya mencakup Riau, Lingga, Johor, Pahang hingga Singapura. Dari pulau kecil inilah lahir banyak pemikiran besar yang menjadi fondasi kebudayaan Melayu dan perkembangan bahasa Indonesia,” ujar Ansar.

Ansar menuturkan, nama Pulau Penyengat sendiri berasal dari cerita masyarakat pada masa lalu. Pulau tersebut awalnya merupakan tempat persinggahan para nelayan dan pelaut untuk mengambil air bersih. Suatu ketika mereka diserang kawanan lebah atau serangga yang menyengat sehingga sejak saat itu pulau tersebut dikenal dengan nama Pulau Penyengat.

Selain itu, dalam memori kolektif masyarakat Melayu, Pulau Penyengat juga dikenal sebagai Pulau Mas Kawin, karena dipercaya merupakan mas kawin yang diberikan Sultan Mahmud Syah III kepada permaisurinya, Engku Puteri Raja Hamidah.

“Sejak saat itu Pulau Penyengat menjadi pusat penting Kesultanan Riau-Lingga dan hingga hari ini kita masih dapat menyaksikan berbagai peninggalan sejarah yang terus kita lestarikan bersama,” jelasnya.

Menurut Ansar, hingga kini terdapat sedikitnya 46 situs cagar budaya di Pulau Penyengat yang menjadi saksi perjalanan sejarah Melayu. Salah satu yang paling ikonik adalah Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat, yang dibangun menggunakan campuran pasir, kapur, dan putih telur sebagai perekat bangunan.

“Masjid Sultan Riau menjadi simbol kejayaan peradaban Melayu. Bangunan bersejarah ini tetap kokoh berdiri dan menjadi bukti kecerdasan arsitektur masyarakat Melayu pada zamannya,” katanya.

Lebih lanjut, Ansar menegaskan bahwa Pulau Penyengat memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan Bahasa Indonesia. Pulau ini bahkan dikenal sebagai Pulau Penyair karena tradisi literasi yang tumbuh kuat di kalangan masyarakatnya sejak abad ke-19.

“Di Pulau Penyengat sudah berdiri percetakan sejak tahun 1886. Tradisi menulis berkembang sangat pesat. Para bangsawan, ulama hingga kaum perempuan aktif menulis dan menghasilkan ratusan manuskrip yang kini menjadi warisan intelektual bangsa,” ungkapnya.

Tokoh terbesar dari Pulau Penyengat adalah Raja Ali Haji yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Melalui karya monumentalnya, seperti Gurindam Dua Belas, Kitab Pengetahuan Bahasa yang menjadi kamus bahasa Melayu modern pertama, serta Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi dasar Bahasa Indonesia.

“Bahasa Melayu yang berkembang di Kepulauan Riau inilah yang kemudian dipilih sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia karena sifatnya yang terbuka, mudah dipelajari, dan telah digunakan sebagai bahasa komunikasi antardaerah sejak ratusan tahun lalu,” jelas Ansar.

Sebagai bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dalam melestarikan sejarah tersebut, Ansar mengatakan saat ini pemerintah tengah membangun Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat di atas lahan seluas sekitar dua hektare.

Pembangunan monumen tersebut bertujuan menjadikan Pulau Penyengat sebagai pusat sejarah perkembangan Bahasa Indonesia sekaligus sarana edukasi, literasi, dan penguatan wawasan kebangsaan bagi masyarakat.

“Monumen Bahasa Nasional ini diharapkan menjadi media pembelajaran yang representatif mengenai sejarah perkembangan Bahasa Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya bertaraf nasional,” ujar Ansar.

Menurutnya, pembangunan kawasan tersebut juga akan memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat melalui peningkatan sektor pariwisata, berkembangnya UMKM, serta memperkuat fiskal daerah, khususnya Kota Tanjungpinang dan Provinsi Kepulauan Riau.

Ansar berharap keberadaan Monumen Bahasa Nasional nantinya dapat menjadi warisan budaya dan intelektual bagi generasi mendatang, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga Bahasa Indonesia sebagai identitas dan jati diri bangsa.

“Kita ingin Pulau Penyengat tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran yang terus hidup. Di sinilah identitas budaya Melayu, sejarah bangsa, dan lahirnya Bahasa Indonesia dapat dipelajari oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang,” tutup Ansar.  (Bar)

Editor : Patar


 

Posting Komentar